Saturday, 28 February 2015

MAKALAH SOSIOLINGUISTIK TENTANG PENDIDIKAN BAHASA



MAKALAH SOSIOLINGUISTIK
(Pendidikan Bahasa)

Disusun oleh:
Asaro Aprilianti          2303413033





FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014

PRAKATA

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
            Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul ”Pendidikan Bahasa”.
            Dalam penyusunan makalah ini, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada kedua orang tua dan segenap keluarga besar penulis yang telah memberikan dukungan, kasih, dan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal. Semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi. Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

                                                                                                 Semarang  Juni 2014

      
                                                                                                     
                                                                                                            Penulis



BAB I
PENDAHULUAN

            Saat ini pendidikan bahasa banyak di minati oleh orang. Mereka yang belajar bahasa memiliki beragam tujuan yang berbeda-beda. Ada yang belajar hanya untuk mengerti, ada yang belajar untuk memahami isi bacaan, ada yang belajar untuk dapat bercakap-cakap dengan lancar, ada pula yang belajar untuk gengsi-gengsian, dan ada pula yang belajar dengan berbagai tujuan khusus.
            Bahasa adalah alat penerus kebudayaan, kemasyarakatan dan kemanusiaan. Perolehan kebudayaan oleh manusia terjadi melalui suatu proses yang disebut pendidikan. Dalam pendidikan akan terjadi interaksi belajar mengajar antara pendidik dan peserta didik dan alat paling utama dalam interaksi belajar mengajar adalah bahasa. Penggunaan bahasa pengantar yang baik akan mendukung secara langsung maupun tidak langsung pembelajaran bahasa.
            Demikian juga bahasa Arab yang kedudukannya di Indonesia sebagai bahasa Asing juga banyak di pelajari oleh orang indonesia. Menurut asumsi yang selama ini berkembang, bahasa Arab sudah mulai dikenal oleh bangsa Indonesia sejak Islam dikenal dan dianut oleh mayoritas bangsa kita. Jika Islam secara meluas telah dianut oleh masyarakat kita pada abad ke-13, maka usia pendidikan bahasa Arab dipastikan sudah lebih dari 7 abad. Karena perjumpaan umat Islam Indonesia dengan bahasa Arab itu paralel dengan perjumpaannya dengan Islam. Dengan demikian, bahasa Arab di Indonesia jauh lebih “tua dan senior” dibandingkan dengan bahasa asing lainnya, seperti: Belanda, Inggris, Portugal, Mandarin, dan Jepang. Sejak kemunculannya di Indonesia, sudah banyak metode-metode yang di terapkan dalam pengajaran bahasa Arab. Metode-metode itu berkembang sesuai dengan kebutuhan dan keefektifan dalam pengajaran bahasa Arab. Sedangkan di dunia, bahasa Arab mulai menyebar keluar jazirah Arabia sejak abad ke-1H atau abad ke-7M, karena bahasa Arab selalu terbawa kemana pun islam terbang. Penyebaran itu meliputi wilayah Byzantium di utara, wilayah Persia di timur dan wilayah Afrika sampai Andalusia di Barat. Bahasa Arab pada masa khalifah Islamiyah itu menjadi bahasa resmi untuk keperluan agama, budaya, administrasi dan ilmu pengetahuan.
BAB II
PEMBAHASAN
(Pendidikan Bahasa)
A. Bahasa dan Pendidikan
            Bahasa adalah sistem lambang bunyi ujaran yang digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat pemakainya. Bahasa yang baik berkembang berdasarkan suatu sistem, yaitu seperangkat aturan yang dipatuhi oleh pemakainya. Bahasa sendiri berfungsi sebagai sarana komunikasi serta sebagai sarana integrasi dan adaptasi.            Berikut ini adalah pengertian dan definisi bahasa menurut para ahli:
# WITTGENSTEIN
            Bahasa merupakan bentuk pemikiran yang dapat dipahami, berhubungan dengan realitas, dan memiliki bentuk dan struktur yang logis.
# FERDINAND DE SAUSSURE
            Bahasa adalah ciri pembeda yang paling menonjol karena dengan bahasa setiap kelompok sosial merasa dirinya sebagai kesatuan yang berbeda dari kelompok yang lain.
# PLATO
            Bahasa pada dasarnya adalah pernyataan pikiran seseorang dengan perantaraan onomata (nama benda atau sesuatu) dan rhemata (ucapan) yang merupakan cermin dari ide seseorang dalam arus udara lewat mulut.
# BLOCH & TRAGER
            Bahasa adalah sebuah sistem simbol yang bersifat manasuka dan dengan sistem itu suatu kelompok sosial bekerja sama.
            Menurut UU No. 20 tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.
            Menurut kamus Bahasa Indonesia Kata pendidikan berasal dari kata ‘didik’ dan mendapat imbuhan ‘pe’ dan akhiran ‘an’, maka kata ini mempunyai arti proses atau cara atau perbuatan mendidik. Secara bahasa definisi pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusiamelalui upaya pengajaran dan pelatihan.
            Bila dilihat dari beberapa definisi dan pengertian mengenai bahasa dan juga pendidikan menurut beberapa ahli diatas, kita bisa melihat bahwa terdapat perbedaan definisi tentang bahasa maupun pendidikan dimana definisi dari setiap ahli tergantung dengan apa yang ingin ditekankan. Namun meskipun terdapat perbedaan, nampaknya disepakati bersama bahwa bahasa adalah alat komunikasi. Dan sebagai alat komunikasi, bahasa mempunyai fungsi-fungsi dan ragam-ragam tertentu termasuk sebagai  alat penerus kebudayaan, kemasyarakatan dan kemanusiaan. Sementara Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
            Menurut Nababan, perolehan kebudayaan oleh manusia terjadi melalui suatu proses yang disebut pendidikan. Istilah pendidikan bahasa tercakup di dalamnya pengajaran bahasa. Pendidikan lebih tertuju kepada pengubahan sikap pribadi yang lebih baik terhadap bahasa yang dipelajari sedangkan pengajaran lebih tertuju kepada pengubahan pengetahuan dan keterampilan berbahasa yang dipelajari.
B. Tujuan Belajar Bahasa
            Banyak orang yang belajar bahasa dengan berbagai tujuan yang berbeda. Ada yang belajar hanya untuk mengerti, ada yang belajar untuk memahami isi bacaan, ada yang belajar untuk dapat bercakap-cakap dengan lancar, ada pula yang belajar untuk gengsi-gengsian, dan ada pula yang belajar dengan berbagai tujuan khusus.
                        Menurut Nababan (1993: 64), tujuan belajar bahasa dapat digolongkan ke dalam empat golongan utama, yaitu:
1.      Penalaran
           Tujuan penalaran menyangkut kesanggupan berfikir dan pengungkapan nilai serta sikap sosial budaya.
2. Instrumental
                 Tujaun instrumental menyangkut penggunaan bahasa yang dipelajari untuk tujuan-tujuan material dan konkret, misalnya untuk mengetahui pemakaian alat-alat, memperbaiki kerusakan mesin, mempelajari suatu ilmu, melakukan korespondensi komersial, dsb.
3.  Integratif
                 Tujuan integratif menyangkut keinginan seseorang menjadi anggota suatu masyarakat yang menggunakan bahasa (atau dialek) itu sebagai bahasa pergaulan sehari-hari.
4.  Kebudayaan
                 Tujuan kebudayaan terdapat pada orang yang secara ilmiah ingin mengetahui, atau memperdalam pengetahuannya tentang suatu kebudayaan atau masyarakat. Tujuan ini didasarkan pandangan bahwa bahasa menyimpan unsur-unsur kebudayaan dari suatu masyarakat, sehingga mengetahui bahasa akan membantu memperdalam pengetahuan tentang kebudayaan atau kehidupan masyarakat yang memakai bahasa tersebut.
           
C. Bahasa Dalam Interaksi Belajar Mengajar
            Apabila dikaitkan dengan proses belajar mengajar, maka interaksi belajar mengajar adalah suatu hal yang saling melakukan aksi di dalam proses belajar mengajar yang di dalamnya ada suatu hubungan antara murid dan guru untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan dari interaksi tersebut adalah suatu hal yang sudah disadari serta disepakati sebagai milik bersama dan berusaha dengan semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan itu.                        Alat paling utama dalam interaksi belajar mengajar adalah bahasa. Penggunaan bahasa pengantar yang baik akan mendukung secara langsung maupun tidak langsung pembelajaran bahasa.
D. Pengajaran Bahasa Asing: Arab
            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994: 14-15) pengajaran: 1. proses perbuatan; cara mengajar atau mengajarkan; 2. perihal mengajar; segala sesuatu mengenai mengajar. Pembelajaran: proses, cara, menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Pemelajaran: proses, cara, perbuatan mempelajari.
            Pengajaran bahasa asing termasuk bahasa Arab bagi orang Indonesia selalu dilatar belakangi berbagai tujuan yang melahirkan berbagai metode pengajarannya. Metode pengajaran bahasa asing terus berkembang seiring perkembangan tuntutan zaman. Setiap metode pengajaran memiliki kelebihan dan kekurangannya tergantung konteks situasi yang menyertainya.
1. SEJARAH PERKEMBANGAN METODE PENGAJARAN BAHASA ASING DUNIA
            Sejarah perkembangan bahasa kedua (asing) dimulai dengan model “private”, karena pada masa lalu hanya orang-orang terkemuka dan para bangsawan saja yang mampu belajar bahasa kedua. Pada permulaan masa imperium Romawi, peradaban Yunani kuno sangat dominan. Maka dalam rangka menguasai ilmu dan peradaban Yunani kuno, para penguasa Romawi merasa perlu mempelajari bahasa Yunani. Metode yang digunakan adalah “menghafalkan ungkapan-ungkapan dalam bahasa kedua (Yunani) dan membandingkan dengan ungkapan-ungkapan dalam bahasa ibu (Latin)”. Seiring dengan menguatnya kekuasaan Romawi, maka bahasa mereka (bahasa Latin) menjadi bahasa yang paling dominan , karena digunakan sebagai bahasa agama, ilmu, sastra, dan politik.
Lahirnya alat percetakan pada abad 15 M membawa perubahan besar pada pengajaran bahasa. Di Eropa pada waktu itu, bahasa Latin menjadi bahasa sekolah atau bahasa ilmu. Bahasa Latin diajarkan di sekoalah-sekolah, dan buku-buku berbahasa Latin beredar secara luas di tengah masyarakat. Pada waktu itu, ada upaya dari para ahli filsafat bahasa untuk menerapkan kaidah-kaidah gramatika yang diambil dari bahasa tulis Latin kuno pada bahasa lisan. Maka pengajaran bahasa pada waktu itu berkutat pada menghafalkan kaidah-kaidah bahasa dan penerapannya secara ketat dalam ujaran-ujaran.
Pada abad 17 M, seorang pendidik dari Cheko, John Amos Comenius, dalam bukunya “Membuka Khasanah Bahasa” yang terbit pada tahun 1630, mengemukakan pandangan bahwa metode pengajaran yang selama ini dipakai tidak berguna. Dalam pandangannya, penguasaan kaidah-kaidah belaka dan menghafalkan kosa kata lepas adalah sia-sia, dan bahwa upaya menundukkan kaidah bahasa kepada prinsip-prinsip logika adalah bertentangan dengan taibat bahasa yang spontan. Comenius menyarankan cara belajar bahasa melalui gerakan dan aktivitas yang langsung menyertai ungkapan bahasa, atau melalui gambar-gambar yang konkrit tanpa terlalu dibebani dengan penguasaan kaidah-kaidah. Pandangan Comenius ini tidak menarik perhatian para pengajar bahasa pada waktu itu, tetapi mendapat dukungan dari beberapa pendidik dan filosof Inggris semisal John Lock.
Pada awal abad 19 M, muncul pandangan yang menguatkan kembali perlunya penguasaan kaidah-kaidah bahasa dan kosakata dalam pengajaran bahasa. Pelopornya adalah seorang pendidik dari Jerman yaitu Karl Ploetz, yang juga menyarankan pemilihan teks-teks tertentu untuk diterjemahkan  dari bahasa pertama. Metode, yang kemudian dikenal dengan nama “Metode Gramatika Terjemah” ini tersebar luas pemakainya di Eropa barat pada awal abad 19 M.
Kemudian pada pertengahan abad sembilan belas itu pula, muncul metode baru yang dipelopori oleh Francois Gouin dari Perancis. Metode yang kemudian dikenal dengan “Metode Langsung” ini membawa siswa terjun langsung dan tenggelam dalam aktivitas bahasa asing yang dipelajari sejak detik pertama dalam ruang kelas, dengan bantuan gerakan, peragaan, dan gambar. Metode ini digunakan secara luas di benua Eropa, Amerika, Timur Tengah, dan belahan dunia lainnya sampai perempatan pertama abad ke-20 M.
Perkembangan metodologi pengajaran bahasa pasca metode Langsung yaitu sejak tahun tigapuluhan berkembang secara cepat, seiring dengan berkembangnya kajian-kajian dalam bidang linguistik dan psikologi. Dimulai dengan metode membaca (tahun 30-an), berturut-turut lahir pendekatan Aural-Oral dan Metode Audiolingual (tahun 50-an), pendekatan kognitif (tahun 60-an), pendekatan komunikatif (tahun 70-an) dan beberapa pendekatan mutakhir yang terus dikembangkan Negara-negara yang menjadi kiblat pengajaran bahasa seperti Amerika dan Inggris.
2SEJARAH PERKEMBANGAN PENGAJARAN BAHASA ARAB DI SEMENANJUNG ARAB DAN WILAYAH SEKITARNYA
             Sejarah mencatat bahwa bahasa Arab mulai menyebar keluar jazirah Arabia sejak abad ke-1H atau abad ke-7M, karena bahasa Arab selalu terbawa kemana pun islam terbang. Penyebaran itu meliputi wilayah Byzantium di utara, wilayah Persia di timur dan wilayah Afrika sampai Andalusia di Barat. Bahasa Arab pada masa khalifah Islamiyah itu menjadi bahasa resmi untuk keperluan agama, budaya, administrasi dan ilmu pengetahuan. Kebanggan kepada bahasa Arab menyebabkan bahasa Yunani, Persia, Koptik dan Syiria yang merupakan bahasa ibu bagi penduduk di berbagai wilayah itu berada pada posisi inferior. Mereka berbicara, menulis surat-surat pribadi, bahkan mengarang syair-syair dengan bahasa Arab. Tidak diperoleh referensi yang memadai bagaimana bahasa Arab dipelajari oleh orang-orang non Arab itu. Yang pasti adalah melalui interaksi langsung dengan penutur asli bahasa Arab yang datang ke negei mereka, dan kepergian mereka ke pusat-pusat Islam di jazirah Arabia.
Ketika masa kejayaan Islam semakin meredup pada akhir abad ke 18, sementara Eropa justru mengalami renaisans (kelahiran kembali atau pencerahan), mata angin pembelajaran bahasa Arab pun mulai berganti arah. Kemajuan yang terjadi di Eropa mengiringi dunia Arab dan Islam untuk berbalik mencari tetesan ilmu pengetahuan yang pada awalnya berasal dari kemajuan peradaban mereka sendiri. Disinilah teori dialektika sejarah Hegel terjadi. Peradaban barat maju karena kemajuan peradaban Islam masa lalu, dan masa kebangkitan Islam dan Arab kemudian dipengaruhi oleh kemajuan peradaban Barat. Melalui invansi Napoleon Bonaparte ke Mesir pada tahun 1789 M., mata dunia Arab dan Islam yang mulai meredup itu kembali terbuka lagi untuk melihat dan meledani berbagai kemajuan yang terjadi di Eropa
Sejak saat itu pula, Mesir banyak menimba ilmu serta mengadakan hubugan diplomatik kebudayaan dengan Eropa, khususnya Prancis. Dalam pengajaran bahasa, metode-metode yang berkembang di Eropa pun diadopsi dan digunakan secara luas di Mesir, mulai dari metode gramatika tarjamah,sampai dengan metode metode langsung. Pengajaran bahasa Arab semakin berkembang dan mendapatkan momentumnya manakala terjadi invansi para missionaris Kristen dari Amerika menyerbu negeri Arab bagian Utara (Syam). Karena dalam penyebaran misi awalnnya, mereka menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa yang resmi, maka berkembang pulalah metodologi pengajaran bahasa Arab. Sehingga lahirlah beberapa buku yang berkaitan dengan ilmu bahasa Arab termasuk kamus-kamus berbahasa Arab. Al-Munjid, adalah salah satu bukti sejarah dimana seorang Nasrani seperti Louis Ma’luf terlibat secara langsung dalam pengembangan bahasa Arab. Dari penjelasan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa perkembangan metodologi pengajaran bahasa-bahasa latin di Eropa,dan bahasa Inggris di Eropa dan Amerika banyak berjasa dalam memajukkan perkembangan metodologi pengajaran bahasa Arab.
.
3. PERKEMBANGAN PENGAJARAN BAHASA ARAB DI INDONESIA
            Sejauh ini belum ada hasil penelitian yang memastikan sejak kapan studi bahasa Arab di Indonesia mulai dirintis dan dikembangkan. Asumsi yang selama ini berkembang adalah bahwa bahasa Arab sudah mulai dikenal oleh bangsa Indonesia sejak Islam dikenal dan dianut oleh mayoritas bangsa kita. Jika Islam secara meluas telah dianut oleh masyarakat kita pada abad ke-13, maka usia pendidikan bahasa Arab dipastikan sudah lebih dari 7 abad. Karena perjumpaan umat Islam Indonesia dengan bahasa Arab itu paralel dengan perjumpaannya dengan Islam. Dengan demikian, bahasa Arab di Indonesia jauh lebih “tua dan senior” dibandingkan dengan bahasa asing lainnya, seperti: Belanda, Inggris, Portugal, Mandarin, dan Jepang.
Bahasa Arab masuk kewilayah nusantara dapat dipastikan bersamaan dengan masuknya agama Islam, karena bahasa Arab sangat erat kaitannya dengan berbagai bentuk peribadatan dalam agama Islam disamping kedudukannya sebagai bahasa kitab suci Al-Qur’an. Maka pengajaran bahasa Arab yang pertama dinusantara adalah untuk memenuhi kebutuhan seorang muslim dalam menunaikan ibadah khususnya Shalat. Sesuai dengan kebutuhan tersebut, materi yang diajarkan adalah doa-doa salat dan surat-surat pendek Al-Qur’an yaitu juz yang terakhir yang lazim disebut juz’ Amma, atau dikenal dengan sebutan Turutan. Didalam turutan ini termuat pula materi pelajaran memabaca huruf Al-Qur’an dengan metode abjadiyah. Akan tetapi pengajaran bahasa Arab verbalistik ini dirasa tidak cukup, karena Al-Qur’an tidak hanya dibaca sebagai sarana peribadatan, melainkan pedoman hidup yang harus dipahami maknanya dan diamalkan ajaran-ajarannya. Demikian pula doa-doa atau bacaan-bacaan dalam shalat perlu dipahami dan dihayati maknanya agar shalat benar-benar berfungsi sebagai media komunikasi dengan sang pencipta. Maka muncullah pengajaran bahasa Arab untuk kedua dengan tujuan pendalaman ajaran agama Islam, yang tumbuh dan berkembang dipondok pesantren.
Materi pelajaran Pendidikan Bahasa Arab bentuk kedua ini meliputi fiqh, aqoid, hadist, tafsir,dan ilmu-ilmu bahasa Arab seperti nahwu, shorf, dan balaghoh dengan buku teks berbahasa Arab yang ditulis oleh para ulama dari berbagai abad di masa lalu. Diantara buku teks (yang lazim disebut kitab) tersebut adalah sebagai berikut. Untuk fiqihSullam an-Naja:h, Sullam at-Taufi:q, Fathu-l-Qori:b, Fathu-l-Mu’i:n, I’a:nat-t-Tho:libin,Fathu al-Wahhab, dan al-Asibah wa an-Nadza:irAqo’idaqi:dah al-AwwamHadist: al-Arba’i:n an-Nawa:wiyah, Bulu:gh al-Maram, Mukhtashar Abi: Jamroh Tajri:d Shori:kh Shohih Bukhori, Shohih Muslim. Tafsir: Tafsi:r al-Jala:layn. Ilmu bahasa Arab: al-Jurumiyah, Alfiyah ibnu MalikShorf: Aru:dh, Jawa:hir al-Bala:ghoh.
Metode yang digunakan dalam pengajaran bahasa Arab bentuk kedua ini adalah metode Gramatika Terjemah (Qowa:’id wa Tarjamah). Tehnik penyajiannya secara umum adalah guru (kyai) dan murid-murid (santri) masing-masing memegang buku (kitab). Guru membaca dan mengartikan kata demi kata atau kalimat demi kalimat ke dalam bahasa daerah khas pesantren yang telah didekatkan kepada sensitivitas bahasa Arab. Santri mencatat arti setiap kata atau kalimat Arab yang diucapkan artinya oleh guru. Pekerjaan santri mencatat arti setiap kata ini dikenal dengan istilah memberi “jenggot”, karena terjemahan bahasa daerah yang dicantumkan langsung dibawah kata Arab tadi ditulis menjulur ke bawah menyerupai jenggot. Hal ini dilakukan dalam 2 bentuk yaitu dilakukan sendiri-sendiri (privat); satu persatu santri menghadap kyai (dinamakan Sorogan) dan model klasikal (dinamakan Bandongan).
Model pembelajaran dengan metode Gramatika Terjemah ini memiliki ciri khas yaitu model penerjemahan sekaligus mengajarkan tata kalimat (qowaid) yaitu menggunakan kata-kata tertentu sebagai simbol yang menunjukkan fungsi suatu kata dalam kalimat.
Sebagai contoh: Ø§Ù„حمد لله رب العالمين
الحمدUtawi iku sekabehe puji
 Ù„لهIku kagungane Gusti Allah
 Ø±Ø¨ العالمينKang mangerani sakabehing alam
Utawi –iku-kang” dalam terjemahan tersebut digunakan bukan dalam arti yang sebenarnya, melainkan sebagai kata pinjaman fungsional yaitu menunjukkan fungsi kata dalam kalimat. Utawi sebagai simbol untuk kata yang berkedudukan atau berfungsi sebagai subjek (Mubtada’), sedangkan iku adalah sebagai simbol untuk kata yang berkedudukan atau berfungsi sebagai predikat (Khabar), dan kang adalah sebagai simbol untuk kata sifat (Na’at).
Pengajaran bahasa Arab bentuk kedua ini, yang dapat digolongkan ke dalam bentuk pengajaran bahasa Arab untuk tujuan khusus (li ahda:f kha:shah – for special purposes) adalah yang paling dominan di tanah air hingga saat ini dan diakui kontribusinya dalam memahamkan umat Islam Indonesia terhadap ajaran agamanya. Akan tetapi dipandang dari segi penguasaan bahasa Arab, kemahiran yang berhasil dicapai terbatas pada kemahiran reseptif.
Seiring dengan tuntutan zaman yang terus berubah, pergaulan umat Islam antar bangsa menuntut kemampuan berbahasa Arab lebih dari sekedar kemampuan reseptif. Keperluan menjadikan bahasa Arab sebagai media komunikasi baik lisan maupun tulisan antar bangsa tersebut dirasa sangat urgen. Maka itu dibutuhkan kemampuan produktif atau ekspresif dalam berbahasa Arab. Hal inilah yang mendorong perubahan corak pembelajaran bahasa Arab. Pembelajaran bahasa Arab diarahkan mampu menjawab tuntutan zaman tersebut. Tujuan pengajaran bahasa arab yang sebelumnya hanyalah berkutat pada masalah pendalaman khasanah keislaman klasik yang banyak termaktub dalam bahasa Arab berubah menjadi pengembangan kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab.
Bersamaan dengan perkembangan tujuan pengajaran bahasa Arab itu, berkembang pula metode pengajarannya. Para ulama dan intelektual muslim yang belajar di pusat-pusat pendidikan di Timur Tengah terutama Mesir, setibanya di tanah air banyak membawa semangat pembaharuan yang sedang melanda negeri-negeri tersebut, tidak saja dalam bidang pendidikan dan pemikiran agama, tetapi juga dalam metodologi pengajaran bahasa Arab.
Pada masa inilah metode Langsung (Thari:qoh Muba:syirah – Direct Method) mulai diterapkan dalam pengajaran bahasa Arab di tanah air. Pengajaran bahasa Arab bentuk ketiga ini terdapat di berbagai perguruan Islam modern sejak awal abad 19 M, dimulai di Padang Panjang oleh Ustadz Abdullah Ahmad, Madrasah Adabiyah (1909), dua bersaudara Zainudddin Labay El-yunusi dan Rahmah Labay El-Yunusiyah, Diniyah Putra (1915) Diniyah Putri (1923), dan Ustadz Mahmud Yunus Normal School (1931); kemudian dikembangkan oleh KH. Imam Zarkasyi di Kulliyatu-l-Mu’allimin al-Islamiyah Gontor Ponorogo.
Dalam sistem pengajaran yang ketiga ini, pelajaran agama pada tahun pertama diberikan sebagai dasar saja dan dengan bahasa Indonesia. Sementara itu sebagian besar perhatian siswa dicurahkan kepada pelajaran bahasa Arab dengan metode Langsung. Pada tahun kedua, ilmu tata bahasa Arab (nahwu sharf) mulai diberikan dalam bahasa Arab dengan metode induktif, disamping latihan intensif qira:ahinsya’, dan muha:dastah. Pelajaran agama juga disajikan dalam bahasa Arab. Dlam masa belajar enam tahun (pasca Sekolah Dasar), seorang lulusan perguruan Islam modern ini telah mampu berkomunikasi dengan bahasa Arab, lisan maupun tulisan dan mampu membaca buku berbahasa Arab dalam berbagai subyek pengetahuan. Dalam perkembangannya, pengajaran bahasa Arab di perguruan Islam modern ini tidak hanya menggunakan metode Langsung tetapi mengikuti pembaharuan-pembaharuan yang terjadi di dunia pengajaran bahasa, misalnya dengan hadirnya pendekatan Aural-Oral dan pendekatan Komunikatif.
Sayang sekali bahwa pembaharuan ini tidak segera bisa diserap oleh sebagian besar perguruan Islam di tanah air, karena sebagian memilih bertahan pada bentuk kedua, dan sebagian besar lainnya mencoba menggabungkan bentuk ketiga dan kedua sehingga menghasilkan bentuk keempat berikut ini.
Bentuk keempat pengajaran bahasa Arab di tanah air, yang terdapat di lembaga pendidikan formal (madrasah dan sekolah umum), meminjam istilah Wajiz Anwar, L.Ph (1971) adalah “bentuk yang tidak menentu”. Ketidakmenentuan ini bisa dilihat dari beberapa segi. Pertama dari segi tujuan, terdapat kerancuan antara mempelajari bahasa Arab sebagai tujuan (menguasai kemarihan berbahasa) atau sebagai alat untuk menguasai pengetahuan lain yang menggunakan wahana bahasa Arab. Kedua dari segi jenis bahasa yang dipelajari, terdapat ketidakmenentuan apakah bahasa Arab klasik, bahasa Arab modern, atau bahasa Arab sehari-hari. Ketiga dari segi metode, terdapat kegamangan antara mempertahankan yang lama dan menggunakan yang baru. Ketridakmenentuan ini diungkapan antara lain oleh Ahmad Chatib dkk. (1996) yang mengengemukakan berdasarkan hasil penelitiannya bahwa praktek pengajaran bahasa Arab atau model pembelajaran bahasa Arab di lembaga pendidikan formal khususnya madrasah atau sekolah berlabel “Islam”, yang mencoba menggabungkan pengajaran tata bahasa dan keterampilan berbahasa sebagai model pembelajaran bahasa Arab pada kenyataannya masih didominasi bentuk pengajaran yang cenderung menekankan pada kaidah-kaidah bahasa (Nahwu Shorf) dengan menggunakan metode gramatika terjemah.
Ketidakmenentuan bentuk pengajaran bahasa Arab di jenjang pendidikan dasar dan menengah berdampak pada pengajaran bahasa Arab di perguruan tinggi. Menghadapi kenyataan seperti ini, banyak upaya perbaikan dan pembaharuan yang dilakukan. Upaya peembaharuan pengajaran bahasa Arab di Indonesia dalam skala yang lebih luas (setelah pembaharuan pada era tigapuluhan), dimulai pada awal tahun tujuh puluhan dengan sponsor utama Departemen Agama R.I. Dimulai dengan sebuah penelitian nasional oleh dua belas IAIN di seluruh Indonesia (1971), workshop penyusunan silabus pengajaran bahasa Arab tingkat dasar, menengah, dan lanjut (1972), workshop penyusunan pedoman pembuatan “Pedoman Pengajaran Bahasa Arab untuk Penutur Indonesia”, dan serangkaian penataran bagi para guru bahasa Arab (1976).
Dalam buku pedoman PBA versi Departemen Agama itu direkomendasikan hal-hal sebagai berikut:
  1. Untuk tingkat dasar, digunakan pendekatan Aural-Oral dan Integrated System, dengan metode mimicry-memorization dan patern-practice.
  2. Untuk tingkat menengah, sama denga tingkat dasar disamping pendekatan polysystemic.
  3. Untuk tingkat lanjut, digunakan metode Langsung dan metode Gramatika Terjemah.
Penggunaan pendekatan Aural-Oral untuk tingkat dasar dan menengah berlanjut sampai dengan kurikulum 1984. Sementara itu di lingkungan Depdiknas telah dikembangkan penggunaan pendekatan Komunikatif untuk pengajaran bahasa. Maka pada kurikulum SMU tahun 1994, GBPP Bahasa Arab pun dikembangkan berdasarkan pendekatan Komunikatif, yang kemudian diikuti oleh GBPP Bahasa Arab Madrasah Aliyah tahun 1996.












BAB III
KESIMPULAN

            Bahasa adalah alat penerus kebudayaan, kemasyarakatan dan kemanusiaan. Perolehan kebudayaan oleh manusia terjadi melalui suatu proses yang disebut pendidikan (Nababan, 1993: 62). Selain itu, bahasa juga merupakan bagian dari kebudayaan, maka pewarisan kemampuan berbahasa dan sikap positif terhadap bahasa dilakukan pula melalui jalur pendidikan.
            Banyak orang yang belajar bahasa dengan berbagai tujuan yang berbeda. Ada yang belajar hanya untuk mengerti, ada yang belajar untuk memahami isi bacaan, ada yang belajar untuk dapat bercakap-cakap dengan lancar, ada pula yang belajar untuk gengsi-gengsian, dan ada pula yang belajar dengan berbagai tujuan khusus.
            Alat paling utama dalam interaksi belajar mengajar adalah bahasa. Penggunaan bahasa pengantar yang baik akan mendukung secara langsung maupun tidak langsung pembelajaran bahasa.
            Bahasa Arab mulai menyebar keseluruh dunia bersamaan dengan menyebarnya agama Islam.











DAFTAR PUSTAKA

Nababan, P.W.J. 1993. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Cetakan Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kuswardono, Singgih.Handout Perkuliahan Sosiolinguistik.Universitas Negeri Semarang.

KOMUNIKASI

KOMUNIKASI

4.1 Pengertian Komunikasi
Dalam kamus, komunikasi diartikan sebagai (1) suatu proses dengan mana informasi antarindividu ditukarkan melalui sistem simbol, tanda, atau tingkah laku yang umum (Marriam, 1981: 225); (2) pengiriman dan penerimaan berita antara dua orang atau lebih dengan cara yg tepat sehingga dipahami apa yang dimaksud; hubungan; kontak (Sugono, 2008: 798). Dalam bahasa Arab komunikasi disebut tawa>shul (تَواصل), ibla>gh (إبلاغ), ittisha>l (اتّصال), takha>thub (تخاطب), atau taushi<l (تَÙˆْصيل)(Baalbaki, 1990: 101).
Dalam istilah linguistik, komunikasi berarti penyampaian amanat dari sumber atau pengirim ke penerima melalui sebuah saluran (Kridalaksana, 2008: 130). Komunikasi adalah  pertukaran (transmisi)  ide-ide, informasi dan sebagainya (pesan) antara dua orang atau lebih (pengirim dan penerima) (Richard, 2010: 97). Komunikasi adalah transmisi dan resepsi  sebuah informasi (pesan) antara sumber dan penerima menggunakan sebuah sistem tanda: dalam konteks linguistik sumber dan penerima adalah manusia, sedangkan sistem simbol adalah bahasa (Crystal, 2008: 115).
Sedangkan dalam disiplin ilmu komunikasi terdapat beberapa defenisi yang beragam tentang komunikasi. Komunikasi dapat didefinisikan berdasarkan tiga kerangka pemahaman, yaitu (1) komunikasi sebagai tindakan satu arah; (2) komunikasi sebagai interaksi; dan (3) komunikasi sebagai transaksi (Mulyana, 2011: 67). 
Kerangka pemahaman komunikasi sebagai tindakan satu arah memandang bahwa komunikasi dianggap sebagai proses linier yang dimulai dengan sumber atau pengirim dan berakhir pada penerima, sasaran atau tujuannya. Kerangka pemahaman ini oleh Michael Burgoon disebut sebagai defenisi berorientasi sumber. Defenisi mengisyaratkan komunikasi sebagai semua kegiatan yang secara sengaja dilakukan seseorang untuk menyampaikan rangsangan untuk membangkitkan respons orang lain. Dalam konteks ini, komunikasi dianggap tindakan yang disengaja untuk menyampaikan pesan demi memenuhi kebutuhan komunikator, seperti menjelaskan sesuatu kepada orang lain atau membujuknya untuk melakukan sesuatu. Beberapa defenisi komunikasi yang sesuai dengan konsep ini adalah sebagai berikut:
1. Bernard Berelson dan Gary A. Stainer:
Komunikasi adalah transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya, dengan menggunakan simbol-simbol berupa kata-kata, gambar, figur, grafik, dan sebagainya (Mulyana, 2011: 68).
2. Theodore M, Newcomb:
Komunikasi adalah transmisi informasi, terdiri atas rangsangan yang diskriminatif dari sumber kepada penerima (Mulyana, 2011: 68).
3. Gerald R Miller:
Komunikasi adalah sebuah peristiwa berupa sumber menyampaikan sesuatu pesan kepada penerima dengan niat yang disadari untuk mempengaruhi perilaku penerima (Mulyana, 2011: 68).
4. Everett M. Rogers:
Komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka (Mulyana, 2011: 69).
5. Raymond S. Ross (1983: 8):
Komunikasi adalah suatu proses menyortir, memilih, dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respons dari pikirannya yang serupa yang dimaksudkan komunikator.
6. Mary B. Cassata dan Molefi K Asante (1979: 6):
Komunikasi adalah transmisi informasi dengan tujuan mempengaruhi khalayak.
7. Harold Laswell:
Komunikasi adalah jawaban pertanyaan siapa mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dengan pengaruh bagaimana (Mulyana, 2011: 69).
Kerangka pemahaman komunikasi sebagai interaksi menyertarakan komunikasi dengan proses sebab akibat atau aksi reaksi, yang arahnya bergantian. Kerangka pemahaman ini dapat disebut defenisi berorientasi proses. Seseorang menyampaikan pesan, baik verbal ataupun non verbal, seorang penerima bereaksi dengan memberikan jawaban verbal ataupun respon non verbal (umpan balik), kemudian disusul sebaliknya dan begitu seterusnya. Komunikasi sebagai interaksi dipandang lebih dinamis daripada komunikasi sebagai tindakan satu arah. Salah satu yang dapat ditambahkan dalam konseptualisasi ini adalah umpan balik (feedback), yakni apa yang disampaikan penerima pesan kepada sumber pesan, yang sekaligus digunakan sumber pesan sebagai petunjuk mengenai efektivitas pesan yang ia sampaikan sebelumnya: apa dapat dimengerti, dapat diterima, sehingga berdasarkan umpan balik itu, sumber dapat mengubah pesan selanjutnya agar sesuai dengan tujuannya (Mulyana, 2011: 72-73).
Sedangkan kerangka pemahaman komunikasi sebagai transaksi adalah proses personal karena makna atau pemahaman yang diperoleh bersifat pribadi. Komunikasi bersifat intersubyektif. Komunikasi dianggap telah berlangsung bila seseorang telah menafsirkan perilaku orang lain, baik perilaku verbal maupun non verbal. Kerangka pemahaman ini dapat disebut defenisi berorientasi penerima. Istilah transaksi mengisyaratkan bahwa pihak-pihak yang berkomunikasi berada dalam keadaan interdependensi atau timbal balik; eksistensi satu pihak ditentukan oleh eksistensi pihak lainnya. Semua unsur dalam proses komunikasi saling berhubungan. Beberapa defenisi yang sesuai dengan pemahaman ini adalah antara lain:
1. John R. Wenburg dan William W. Wilmot (1973: 7):
Komunikasi adalah usaha untuk memperoleh makna.
2. Donald Byker dan Loren J. Anderson (1975: 4):
Komunikasi adalah berbagi informasi antara dua orang atau lebih.
3. William I. Gorden (1978: 28):
Komunikasi adalah transaksi dinamis yang melibatkan gagasan dan perasaan.
4. Judi C. Pearson dan Paul E. Nelson (1979: 3):
Komunikasi adalah proses memahami dan berbagi makna.
5. Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss (1994: 6):
Komunikasi adalah proses pembentukan makna di antara dua orang atau lebih.
6. Pace dan Fules (1998: 26):
Komunikasi adalah penciptaan pesan dan penafsiran.
7. Diana K. Ivy dan Phil Backlund (1994: 14):
Komunikasi adalah proses yang terus berlangsung dan dinamis menerima dan mengirim pesan dengan tujuan berbagi makna.
8. Karl Erik Rosengren (2000: 38):
Komunikasi adalah interaksi subyektif purposif melalui bahasa manusia yang berartikulasi ganda berdasarkan simbol-simbol (Mulyana, 2008: 76).



4.2 Unsur-Unsur Komunikasi
Berdasarkan defenisi komunikasi Lasswell sebagaimana tersebut, yaitu komunikasi merupakan jawaban pertanyaan siapa mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dengan pengaruh bagaimana, maka dapat diturunkan lima unsur utama komunikasi. Kelima unsur yang saling bergantung tersebut adalah (1) sumber (source), (2) pesan, (3) saluran atau media, (4) penerima (receiver), (5) efek (Mulyana, 2011: 69-71). Selain kelima unsur pokok tersebut terdapat unsur lain dalam komunikasi, yaitu umpan balik, gangguan/ kendala komunikasi, dan konteks atau situasi komunikasi (Mulyana, 2011: 71) 
Sumber sering disebut juga pengirim, penyandi, komunikator, pembicara, atau originator. Sumber adalah pihak yang berinisiatif atau mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi. Sumber boleh jadi seorang individu, kelompok, organisasi, perusahaan, bahkan suatu negara.
Pesan adalah apa yang dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima. Pesan merupakan seperangkat simbol verbal dan atau non verbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan atau organisasi pesan. Simbol terpenting adalah kata-kata (bahasa), yang dapat merepresentasikan objek (benda), gagasan dan perasaan, baik ucapan (percakapan, wawancara, diskusi, ceramah) ataupun tulisan (surat, esai, artikel, novel, puisi pamplet). Pesan juga dapat dirumuskan secara non verbal, seperti melalui tindakan atau isyarat anggota tubuh (acungan jempol, senyuman, tatapan mata, dsb.), juga melalui musik, lukisan, patung, tarian, dsb..
Saluran atau media adalah alat atau sarana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya kepada penerima. Saluran merujuk kepada bentuk pesan yang disampaikan kepada penerima, apakah saluran verbal atau saluran nonverbal.
Penerima (receiver), sering juga disebut sasaran/ tujuan (destination), komunikate (communicatee), penyadi-balik (decoder), atau khalayak (audience), pendengar (listener), penafsir (intepreter), yaitu orang yang menerima pesan dari sumber.
Efek adalah apa yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan tersebut, misalnya penambahan pengetahuan (dari tidak tahu menjadi tahu), terhibur, perubahan sikap (dari tidak setuju menjadi setuju), perubahan keyakinan, perubahan perilaku (dari tidak membeli barang yang ditawarkan menjadi membeli barang tersebut) (Mulyana, 2011: 69-71).
4.3 Fungsi Komunikasi
Thomas M. Scheidel (1976: 27) mengemukakan bahwa manusia berkomunikasi terutama untuk menyatakan dan mendukung identitas-diri, untuk membangun kontak sosial dengan orang lain di sekitarnya, dan untuk mempengaruhi orang lain untuk merasa, berfikir, atau berperilaku seperti yang diinginkannya. Namun fungsi komunikasi yang paling fundamental menurutnya adalah untuk mengendalikan lingkungan fisik dan psikologis.
Gordon I. Zimmerman (1977: 7) mengelompokkan tujuan komunikasi menjadi dua kelompok besar, yaitu (1) mempertukaran informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas; dan (2) menjalin hubungan yang melibatkan pertukaran informasi mengenai bagaimana hubungan kita dengan orang lain. 
Menurut Rudolph F. Verberder (1978: 17-18), komunikasi mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi sosial dan fungsi pengambilan keputusan. Fungsi sosial komunikasi yaitu untuk tujuan kesenangan, untuk menunjukkan ikatan dengan orang lain, membangun dan memelihara hubungan. Sedangkan fungsi pengambilan keputusan komunikasi adalah memutuskan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu pada saat tertentu.
Menurut Judy C. Pearson dan Paul E. Nelson (1979: 11-12), komunikasi mempunyai dua fungsi umum. Pertama, untuk kelangsungan hidup diri-sendiri yang meliputi: keselamatan fisik, meningkatkan kesadaran pribadi, menampilkan diri kepada orang lain dalam mencapai ambisi pribadi. Kedua, untuk kelangsungan hidup masyarakat, atau untuk memperbaiki hubungan sosial dan mengembangkan keberadaan suatu masyarakat.
Sedangkan menurut William I. Gorden, komunikasi mempunyai empat fungsi, yaitu sosial, ekspresif, ritual, dan instrumental (Mulyana, 2011: 5). Keempat fungsi tersebut tidak saling meniadakan tetapi saling berkaitan, meskipun terdapat suatu fungsi yang dominan.
Fungsi sosial, yaitu komunikasi untuk membangun konsep-konsep diri, aktualisasi-diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan, untuk menghibur dan memupuk hubungan dengan orang lain. Fungsi ekspresif, yaitu komunikasi menjadi instrumen untuk menyampaikan perasaan-perasaan. Fungsi ritual, yaitu komunikasi sebagai perilaku-perilaku simbolik. Fungsi instrumental, yaitu komunikasi bertujuan menginformasikan, mengajar, mendorong, mengubah sikap dan keyakinan, dan mengubah perilaku atau menggerakkan tindakan. Komunikasi berfungsi memberitahukan atau menerangkan mengandung muatan persuasif, yaitu pembicara menginginkan pendengarnya mempercayai bahwa fakta atau informasi yang disampaikannya akurat atau layak diketahui (Mulyana, 2011: 5-33).

4.4 Prinsip Komunikasi
Menurut Deddy Mulyana (2011) terdapat dua belas prinsip komunikasi, yaitu: (1) komunikasi adalah proses simbolik; (2) setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi; (3) komunikasi mempunyai dimensi isi dan dimensi hubungan; (4) komunikasi berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan; (5) komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu; (6) komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi; (7) komunikasi bersifat sistemik; (8) semakin mirip latar belakang sosial-budaya semakin efektiflah komunikasi; (9) Komunikasi bersifat nonsekuensial; (10) komunikasi bersifat prosesual, dinamis dan transaksional; (11) komunikasi bersifat irreversible; dan (12) komunikasi bukan panasea untuk memecahkan berbagai masalah.

4.4.1 Komunikasi adalah proses simbolik 
Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah kebutuhan simbolisasi atau penggunaan lambang. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang menggunakan lambang dan itulah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Ernst Cassier mengatakan bahwa keunggulan manusia atas makhluk lainnya adalah keistimewaan mereka sebagai animal symbolicum. Lambang atau simbol adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Kemampuan manusia menggunakan lambang verbal memungkinkan perkembangan bahasa dan menangani hubungan antara manusia dan objek (baik nyata maupun abstrak) tanpa kehadiran manusia dan objek tersebut (Mulyana, 2011: 92).

4.4.2 Setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi
Manusia tidak dapat tidak berkomunikasi. Komunikasi terjadi saat seseorang memberi makna pada perilaku orang lain atau perilakunya sendiri. Setiap perilaku mempunyai potensi untuk ditafsirkan, misalnya seseorang tersenyum dapat ditafsirkan bahagia dan bila cemberut dapat ditafsirkan ngambek (Mulyana, 2011: 108).

4.4.3 Komunikasi mempunyai dimensi isi dan dimensi hubungan
Dimensi isi menunjukkan muatan (isi) komunikasi, yaitu apa yang dikatakan. Sedangkan dimensi hubungan menunjukkan bagaimana cara mengatakannya yang juga mengisyaratkan bagaimana hubungan para peserta komunikasi itu, dan bagaimana seharusnya pesan itu ditafsirkan (Mulyana, 2011: 109).
4.4.4 Komunikasi berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan
Komunikasi dilakukan dalam berbagai tingkat kesengajaan, dari komunikasi yang tidak disengaja sama sekali (misalnya saat seseorang melamun dan ada orang lain yang memperhatikannya) sampai benar-benar direncanakan dan disadari (seperti seseorang yang menyampaikan pidato). Kesengajaan bukanlah syarat untuk terjadi komunikasi. Meskipun seseorang sama sekali tidak bermaksud menyampaikan pesan kepada orang lain, perilakunya potensial untuk ditafsirkan orang lain. Seseorang tidak dapat mengendalikan orang lain untuk menafsirkan atau tidak menafsirkan perilakunya (Mulyana, 2011: 111).

4.4.5 Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu
Makna pesan bergantung pada konteks fisik dan ruang (iklim, suhu, intensitas cahaya, dsb.), waktu, dan psikologis. Misalnya, pembicaraan tentang lelucon atau bisnis terasa kurang sopan bila dikemukakan di masjid. Tertawa terbahak-bahak atau memakai baju pesta dipersepsi kurang beradab bila ditampakkan dalam acara pemakaman. Seorang tamu yang diterima di pekarangan, teras, ruang tamu, ruang tengah, atau kamar pribadi menunjukkan penerimaan yang berbeda dari tuan rumah. Dering telepon tengah malam dan siang hari menimbulkan persepsi yang berbeda bagi penerimanya. Kehadiran teman laki-laki pada hari selain malam minggu akan dipersepsi berbeda oleh seorang perempuan dengan kehadiran teman laki-laki pada malam minggu (Mulayana, 2011: 113-114). 

4.4.6 Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi
Ketika orang-orang berkomunikasi, mereka meramalkan efek perilaku komunikasi mereka. Orang-orang memilih strategi tertentu berdasarkan bagaimana orang yang menerima pesan akan merespon. Prinsip ini mengasumsikan bahwa hingga derajat tertentu ada keteraturan pada perilaku komunikasi manusia. Perilaku manusia dapat diramalkan (Mulyana, 2011: 115).

4.4.7 Komunikasi bersifat sistemik
Setidaknya dua sistem dasar beroperasi dalam transaksi komunikasi, yaitu sistem internal dan sistem eksternal. Sistem internal adalah seluruh sistem nilai yang dibawa oleh individu ketika ia berpartisipasi dalam komunikasi, yang diserap selama bersosialisasi dalam berbagai lingkungan sosialnya (keluarga, masyarakat setempat, kelompok suku, kelompok agama, lembaga pendidikan, kelompok sebaya, tempat bekerja, dsb.). Istilah-istilah lain yang identik dengan sistem internal adalah kerangka rujukan (frame of reference), bidang pengalaman (field of experience), struktur kognitif (cognitive structure), pola pikir (thinking patterns), keadaan internal (internal states), sikap (attitude). Sistem internal mengandung semua unsur yang membentuk individu yang unik, termasuk ciri-ciri kepribadiannya, intelegensi, pendidikan, pengetahuan, agama, bahasa, motif, keinginan, cita-cita, dan semua pengalaman masa lalunya, yang pada dasarnya tersembunyi namun dapat diduga lewat kata-kata yang diucapkan atau perilaku yang ditunjukkan.
Sistem eksternal terdiri dari unsur-unsur dalam lingkungan diluar individu, termasuk kata-kata yang dipilih untuk berbicara, isyarat fisik peserta komunikasi, kegaduhan disekitarnya, penataan ruangan, cahaya, dan temperatur ruangan. Elemen-elemen ini adalah stimuli publik yang terbuka bagi setiap peserta komunikasi dalam setiap transaksi komunikasi. Akan tetapi karena masing-masing orang mempunyai sistem internal yang berbeda, maka setiap individu tidak akan memiliki bidang perseptual yang sama, meskipun mereka duduk di ruang yang sama, duduk di kursi yang sama dan menghadapi situasi yang sama (Mulyana, 2011: 116-117).

4.4.8 Semakin mirip latar belakang sosial-budaya semakin efektiflah komunikasi.
Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang hasilnya sesuai dengan harapan para pesertanya (orang-orang yang sedang berkomunikasi). Kesamaan dalam hal-hal tertentu, misalnya agama, ras (suku), bahasa, tingkat pendidikan, atau tingkat ekonomi akan mendorong orang-orang untuk saling tertarik dan pada gilirannya karena kesamaan tersebut komunikasi mereka menjadi lebih efektif. Kesamaan bahasa khususnya akan membuat orang-orang yang berkomunikasi lebih mudah mencapai pengertian bersama dibandingkan dengan orang-orang yang tidak memahami bahasa yang sama (Mulyana, 2011: 117-118).

4.4.9 Komunikasi bersifat nonsekuensial (tidak hanya searah)
Meskipun terdapat banyak model komunikasi linier atau satu-arah, sebenarnya komunikasi manusia dalam bentuk dasarnya (komunikasi tatap-muka) bersifat dua-arah. Ketika seseorang berbicara kepada seseorang lainnya, atau sekelompok orang seperti dalam rapat atau kuliah, sebetulnya komunikasi itu berjalan dua-arah, karena orang-orang yang dianggap sebagai pendengar atau penerima pesan sebenarnya juga menjadi pembicara atau pemberi pesan pada saat yang sama, yaitu lewat perilaku nonverbal mereka (Mulyana, 2011: 118).

4.4.10 Komunikasi bersifat prosesual, dinamis dan transaksional
Komunikasi tidak mempunyai awal dan tidak mempunyai akhir, melainkan merupakan proses yang sinambung (continous). Dalam proses komunikasi sebagai transaksi, proses penyandian (encoding) dan penyandian balik (decoding) sebenarnya terjadi serempak. Seseorang melakukan dua kegiatan tersebut pada saat yang hampir bersamaan ketika berkomunikasi. Keserempakan ini yang menandai komunikasi sebagai transaksi.
Dalam proses komunikasi, para peserta komunikasi saling mempengaruhi, seberapa kecil pun pengaruh itu, baik lewat komunikasi verbal ataupun komunikasi nonverbal. Pernyataan sayang, pujian, ucapan selamat, penyesalan, atau kemarahan akan membuat sikap atau orientasi mitra komunikasi berubah, dan pada gilirannya perubahan orientasi itu membuat orientasi pengirim pesan juga berubah terhadapnya, dan begitu seterusnya.
Implikasi dari komunikasi sebagai proses yang dinamis dan transaksional adalah bahwa peserta komunikasi berubah dari sekedar berubah pengetahuan hingga berubah pandangan dan perilakunya. Seseorang mengalami perubahan sebagai hasil terjadinya komunikasi (Mulyana, 2011: 121-123).

4.4.11 Komunikasi bersifat irreversible (tidak dapat diubah)
Suatu perilaku adalah suatu peristiwa. Oleh karena merupakan peristiwa, perilaku berlangsung dalam waktu dan tidak dapat diambil kembali. Sifat irreversible ini adalah implikasi dari komunikasi sebagai proses yang selalu berubah. Efek sebuah komunikasi tidak bisa ditiadakan sama sekali, meskipun terdapat upaya meralatnya. Curtis (1996: 17) mengatakan bahwa kesan pertama itu cenderung abadi. Pernyataan ini sesuai dengan bunyi peribahasa: “Sekali lancung di ujian, seumur hidup orang tidak percaya”. Seseorang yang secara sengaja membohongi orang lain, sulit bagi orang yang dibohongi itu untuk mempercayai si pembohong 100 % seperti kebohongan itu terjadi (Mulyana, 2011: 125).

4.4.12 Komunikasi bukan panasea untuk memecahkan berbagai masalah
Banyak persoalan dan konflik antarmanusia disebabkan oleh masalah komunikasi. Namun komunikasi bukanlah panasea (obat mujarab) untuk menyelesaikan persoalan atau konflik itu, karena persoalan atau konflik itu mungkin berkaitan dengan masalah lain, misalnya masalah struktural. Agar komunikasi efektif, kendala struktural harus juga diatasi. Misalnya, meskipun pemerintah bersusah payah menjalin komunikasi yang efektif dengan warga Aceh dan warga Papua, tidak mungkin usaha itu akan berhasil bila pemerintah memperlakukan masyarakat di wilayah-wilayah itu secara tidak adil, dengan merampas kekayaan alam mereka dan mengangkutnya ke pusat (Mulyana, 2011: 126).

4.5 Konteks Komunikasi
Komunikasi tidak berlangsung dalam ruang hampa-sosial, melainkan dalam konteks atau situasi tertentu. Secara luas konteks adalah semua faktor di luar orang-orang yang berkomunikasi, yang terdiri dari: 
1. Aspek bersifat fisik, seperti iklim, cuaca, suhu udara, bentuk ruangan, warna dinding, penataan tempat duduk, jumlah peserta komunikasi, dan alat yang tersedia untuk menyampaikan pesan;
2. Aspek psikologis, seperti sikap, kecenderungan, prasangka, dan emosi para peserta komunikasi;
3. Aspek sosial, seperti norma kelompok, nilai sosial, dan karakteristik budaya;
4. Aspek waktu, seperti kapan berkomunikasi (hari, jam, dsb.).
Sedangkan menurut Verderber (1996: 7-8), konteks komunikasi terdiri dari: (1) konteks fisik; (2) konteks historis; (3) konteks psikologis; dan (4) konteks kultural.
Istilah lain yang lazim digunakan untuk merujuk pada konteks adalah tingkat (level), bentuk (type), situasi (situation), keadaan (setting), arena, jenis (kind), cara (mode), pertemuan (encounter), dan kategori. Indikator paling umum untuk mengklasifikasikan komunikasi berdasarkan konteksnya atau tingkatanya adalah jumlah peserta yang terlibat dalam komunikasi.
Kategorisasi berdasarkan tingkat (level) paling lazim digunakan untuk melihat konteks komunikasi, dimulai dari komunikasi yang melibatkan jumlah peserta komunikasi paling sedikit hingga komunikasi yang melibatkan jumlah peserta paling banyak. Terdapat empat tingkat komunikasi yang disepakati banyak pakar, yaitu (1) komunikasi antarpribadi; (2) komunikasi kelompok; (3) komunikasi organisasi; dan (4) komunikasi massa (Littlejohn, 1996: 18-19). Beberapa pakar lain menambahkan (1) komunikasi intrapribadi; (2) komunikasi diadik (komunikasi dua-orang), dan komunikasi publik (pidato di depan khalayak).

TAULAH APA

Sebenarnya aku pengin buat note atau coret-coretan lain lah di laptopku atau buku atau dindin kamar kosku sekalian, tapi maluuuuuuuuuuuuuuuuuuu :(
Ya lah malu... emang kenapa yah?
soalnya tulisan yang akan aku buat itu isinya.... "OKE HARUS PULANG HARI TENANG"
hehehe kan malu kalau ada temenku yang baca ,hihi pasti mereka ngmong belum juga masuk kuliah, baru juga sehari disini udah ngmongin pulang hari tenang lagi. oooooooooooooo mengejutkan.!!!!
Tapi ya gimana yah pengin narget aja sihhhh trus juga karena sebenarnya aku pengin balik rumah lagi. haha
yah semoga bisa ga mikirin pulang2 terus lah semester ini bisa kuat nahan kangen. Aamiin....

Pokoknya hari-hari ini temanya rindu pengin pulang kampung lagi.!! RinduRinduRindu *tear* pffft

RASA SORE INI 15:38

Hari cepat sekali berganti dan suasana ternyamanku telah usai. Sebulan lebih aku merasakan kenyamanan dan ketenangan setidaknya tak sering ada perasaan gelisah yang sedang aku rasakan saat ini. Ya Allah aku rindu suasana rumah, aku rindu berada disana, aku masih tak percaya kalau ragaku sekarang ada disini, aku masih ingin di sekeliling mereka.
Mungkin terkesan tidak wajar atau bagaimana karena aku baru sehari ada disini. Tapi sungguh rasa kangen ini sudah muncul dan berat sekali.
Sesaat terlintas banyangan ibuku, riska, andes, ayah, kakaku, dan orang-orang lain yang ada disana. Apalagi ketika aku membuka laptopku ini juga teringat adiku, adiku yang selalu ingin permainan di laptopku ini, main plant n zombie, emely (jualan), masak-masak, kodok, dan permainan lain.
Aku rindu saat itu lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii, entah berapa lama lagi aku harus berada disini. Astaghfirullahaladzim...... Ya Allah ampuni aku karena telah bersikap seperti ini.. 
Aku minta Ya Allah Engkau berkenan untuk menjaga keluargaku agar aku dapat bertemu mereka lagi, kuatkan kami dalam menjalani urusan kami masing-masing. KEEP SPIRIT.!!

Friday, 27 February 2015

PERASAAN HARI INI IHIR -IHIR

Hari ini, aku dah kembali ke kota perjuangan dan itu berarti pula aku akan kembali berjuang. Berjuang untuk masa depanku, berjuang dalam mencari ilmu, berjuang melawan rasa kangenku pada rumah (yang ini bkin mewekkk..) trus berjuang melawan rasa malas (memang sush bgt ngadepin dia, apa hrus pke jrus2 handalnya kakashi yah..) next berjuang ngurusin badan,,(ceileee badan emang hrs diurusin keleusssss ,hihi maksudnya diet biar dpt badan yg ideal. jereeeeee) dan berjuang berjuang dari lain-lainnya.
Berat banget memang rasanya balik kesini menurt pribadi ekeu yahh.. (???? cong) tapi yah inilah namanya juga berjuang, ya dari perasaan2 seperti ini diantaranya. (huhhhhhhh yaa Allah....)
Emm tapi sebenernya ada satu yg buat aku nyesel, nyesellllllllllllllllllllllllllll baget, ehh ga banget2 ding mash standar (kalo ada yg spesial ngapain pilih yg standar...? ga papa plakkk)
Jadi gni aku itu balik ke Semarang bawa oleh2 banyakkkkkkkk banget (sama ga banget2 jg) awalnya aku sih riang2 aja.. tapi pas ngrasain bawanya itu spesial berat (kali ini pilih yang spesial) aku jadi agak nyesel (masih agak lo yah) kenapa aku bwa segini bnyaknya...
Dan................jeng jeng jeng.......... rasa penyesalan itu semakin bertambah dengan suatu kejadian berikut ini: nguiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing...

Ceritanya liburan lama dirumah dan ternyata ada beberapa barangku itu udah habis di kosan kaya sabun mandi (sebenarnya masih ada sih sedikit ditempat sabun tapi aku ga ngehh buat makenya lagi, kata orang ditempatku sih ga "kolu", ya gimana yah namanya juga udah sebulan ga dipake) ada juga sikat gigi itu juga aku udah jijik buat make sikat gigiku yang ku tinggal sebulan.. trus deterjeen yang memang sudah hbs, pencuci mukaku sebenarnya msh ada sedikit tp ketinggalan di rumah jd ya sudah beli lg sj, lalu pelembabku yg hampir hbs, dan juga aku hrus beli ini dan itu lg aduh banyak bgt td.. sehingga uangku lumayan terkuras nihh padahal kan baru setengah hari disini :-(
Aku mikirnya gni, kenapa aku bawa banyak bgt snak?? kenapa ga bawa barang2 itu aja biar disini ga usah beli.. aku bisa tanpa snak (kan emang hrs diet) tp untuk barang2 itu aku ga bisaaaaaa (paraaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh)

Yahhh itulah ceritaku hari ini, dan status ku sekarang "AKU MENYESAL"

Friday, 30 January 2015

KUNCI GITAR ADA AKU DISINI - DHYO HAW

G
biarkan aku
Em                            Am
jadi sesuatu yang berarti untukmu
          D
tapi tidak sesaat

intro : G Em Am D 2x

G
biarkan aku
Em                            Am
jadi sesuatu yang berarti untukmu
          D
tapi tidak sesaat

G
biarkan aku
Em                          Am
jadi tempat untuk bersandar disaat
            D
kau terpuruk rapuh

C            D        G
jangan sampai kau lemah
C       D             G
kuyakin kau pasti bisa bangkit
C      D            G          Em
jangan anggap kau sendiri hadapi
Am     D       G
ada aku disini

C                              D
walau dia kini tlah lama dihidupmu
G                                Em
namun sampai kini tak bahagiakan kamu
Am               D               G
lupakan semuanya tinggalkan saja percuma..

C                           D
bukalah matamu selebar dunia ini
G                                  Em
dan rasakan banyak orang yang perduli
Am                         D
jangan ingat lagi jangan kau sesali
            G
ada aku disini

G
biarkan aku
Em                         Am
yang bisa dapat menuntunmu disaat
              D
kau dilanda ragu

G
biarkan aku
Em
membuatmu lepas tertawa
   Am                      D
dan biarkan semuanya berlalu

C            D        G
jangan sampai kau lemah
C       D             G
kuyakin kau pasti bisa bangkit
C      D            G          Em
jangan anggap kau sendiri hadapi
Am     D       G
ada aku disini

C                              D
walau dia kini tlah lama dihidupmu
G                                Em
namun sampai kini tak bahagiakan kamu
Am               D               G
lupakan semuanya tinggalkan saja percuma..

C                           D
bukalah matamu selebar dunia ini
G                                  Em
dan rasakan banyak orang yang perduli
Am                         D
jangan ingat lagi jangan kau sesali
            G
ada aku disini


C                              D
walau dia kini tlah lama dihidupmu
G                                Em
namun sampai kini tak bahagiakan kamu
Am               D               G
lupakan semuanya tinggalkan saja percuma..

C                           D
bukalah matamu selebar dunia ini
G                                  Em
dan rasakan banyak orang yang perduli
Am                         D
jangan ingat lagi jangan kau sesali
            G
ada aku disini
Am                         D
jangan ingat lagi jangan kau sesali
            G
ada aku disini

KUNCI GITAR BUKAN PUJANGGA - BASE JAM

Intro : E G#m A B

E
Aku mungkin bukan pujangga
G#m
Aku mungkin tak s'lalu ada
A                 B
Ini diriku apa adanya

         E          G#m
Mungkin aku bukan pujangga
             A           B
Yang pandai merangkai kata
           E           G#m
Ku tak s'lalu kirimkan bunga
       A          B
Tuk ungkapkan hatiku

[Int] E G#m A B

         E            G#m
Mungkin aku takkan pernah
        A          B
Memberi intan permata
         E          G#m
Mungkin aku tak selalu
 A          B
Ada di dekatmu

    C#m        A   C#m       B
Ku ingin kau tahu isi di hatiku
       E               G#m
Ku tak akan lelah jaga hati ini
    A                    B
Hingga dunia tak bermentari

[Reff]
E                 G#m
Satu yang kupinta yakini dirimu
A             B
Hati ini milikmu
           C#m
Semua yang kulakukan
        G#m
Untukmu lebih dari sebuah
A                 B
Kata cinta untukmu
    E
Diriku...

Int: E G#m A B
     C#m G#m A B

E
Aku mungkin bukan pujangga
G#m
Aku mungkin tak s'lalu ada
A                 B
Ini diriku apa adanya

to: [Reff]

[Coda] E G#m A B